SOPPENG — Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam Posko 33 Desa Ganra menutup rangkaian Praktik Belajar Lapangan II (PBL II) dengan menggelar Seminar Akhir di Desa Ganra, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, Kamis (15/1/2026). Seminar ini menjadi ruang pemaparan hasil pengkajian masalah kesehatan masyarakat, pemetaan aset desa, serta perumusan rencana intervensi berbasis partisipasi warga.
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan desa, mulai dari perangkat desa, sekretaris camat, kader kesehatan, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), RT/RW, tokoh masyarakat, hingga kelompok pemuda. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat Desa Ganra.
Koordinator Desa (Kordes) PBL II Posko 33 Desa Ganra, Zhafirah Yustiani, menjelaskan bahwa Seminar Akhir PBL II merupakan bentuk pertanggungjawaban akademik dan sosial mahasiswa kepada masyarakat. Selama pelaksanaan PBL II, kata dia, mahasiswa menerapkan pendekatan partisipatif dan berbasis aset dengan melibatkan masyarakat sejak tahap pengkajian hingga perumusan rencana intervensi.
“Seluruh proses PBL II kami lakukan bersama masyarakat, dengan menggali kekuatan dan potensi lokal sebagai dasar dalam menyusun solusi masalah kesehatan yang dihadapi desa, ” ujar Zhafirah.
Berdasarkan hasil pengkajian dan diskusi bersama masyarakat, mahasiswa Posko 33 mengidentifikasi tiga akar masalah utama yang berkaitan dengan prioritas masalah kesehatan di Desa Ganra. Akar masalah tersebut meliputi pola makan tidak sehat pada penderita hipertensi, kurangnya asupan gizi pada ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR), serta faktor stres yang mendorong perilaku merokok di kalangan masyarakat.
Dalam seminar tersebut, mahasiswa juga memaparkan hasil pemetaan aset desa yang dinilai menjadi kekuatan utama dalam mendukung upaya penanggulangan masalah kesehatan. Aset individu yang teridentifikasi mencakup kader kesehatan, perangkat desa, PKK, perwakilan puskesmas, remaja, RT/RW, ibu rumah tangga, serta kelompok pemuda.
Dari sisi sosial budaya, Desa Ganra memiliki nilai gotong royong yang kuat serta berbagai tradisi lokal seperti mabbarasanji, maddoja bine, mappadendang, tudang penni, mappettu ada, permainan joker, hingga tradisi panen mangga. Kebiasaan masyarakat mengonsumsi tanaman herbal seperti daun sirsak, daun galinggang, seledri, dan jamu tradisional juga dipandang sebagai potensi pendukung promosi kesehatan. Peran tokoh adat dan tokoh agama turut dimanfaatkan sebagai media sosialisasi yang efektif.
Sementara itu, aset institusi yang mendukung meliputi puskesmas, posyandu, serta lembaga pendidikan seperti SLB, SD, MTs, dan MA. Desa Ganra juga memiliki aset sumber daya alam berupa pohon kelor dan kebun desa yang berpotensi mendukung pemenuhan gizi masyarakat. Dari aspek sarana prasarana, tersedia lapangan, masjid, aula serbaguna kantor desa, fasilitas wifi desa, serta WC umum yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan kesehatan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa bersama masyarakat merumuskan sejumlah rencana intervensi berbasis aset lokal. Untuk masalah hipertensi, diusulkan edukasi pola makan rendah garam, penyuluhan dampak dan pencegahan hipertensi, rekomendasi menu sehat, demo memasak rendah garam, serta aktivitas fisik ringan seperti senam hipertensi. Pada isu BBLR, dirancang penyuluhan pemenuhan gizi bagi ibu hamil serta edukasi kepada remaja perempuan agar rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) guna mencegah anemia. Adapun untuk menekan perilaku merokok, direncanakan sosialisasi bahaya merokok di lingkungan sekolah serta edukasi kepada masyarakat agar tidak merokok di dalam rumah.
Melalui Seminar Akhir PBL II ini, hasil pengkajian dan rancangan intervensi yang disusun diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah desa dan masyarakat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan secara berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan Asta Cita poin keempat tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Selain itu, PBL II Posko 33 Desa Ganra juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Melalui praktik langsung di masyarakat, mahasiswa FKM Unhas diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga mempererat hubungan sosial dengan masyarakat serta memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Desa Ganra. (*)

SM Network